Now Playing :
Showing posts with label Rumput Laut. Show all posts
Showing posts with label Rumput Laut. Show all posts

Jenis-Jenis Rumput Laut Penghasil Karagenan Dan Habitat Hidupnya

Rata-rata  karagenan diekstrak dari rumput laut jenis Kappaphycus alvarezii dan Eucheuma denticulatum. Sumber asli dari karagenan pada awalnya adalah Chondrus crispus, dan rumput laut jenis  ini masih digunakan sampai batas tertentu hingga saat ini. Jenis rumput Betaphycus gelatinum juga digunakan untuk jenis dai karagenan  tertentu.  Beberapa spesies rumput laut asal  Amerika Selatan yang sebelumnya hanya digunakan sampai batas tertentu saja, sekarang memperoleh keuntungan dari  produsen karagenan karena mereka memperoleh diversifikasi  lebih terhadap spesies yang tersedia bagi mereka dan jenis karagenan yang dapat diekstraksi.

Gigartina skottsbergii, Sarcothalia crispata dan Mazzaella laminaroides saat ini merupakan spesies yang paling berharga, semua jenis rumput laut itu dihasilkan dari sumber daya alam di Chili. Sejumlah kecil dari Gigartina canaliculata dihasilkan dari  Meksiko. Sementara itu rumput laut jenis Musciformis Hypnea banyak  digunakan di Brasil.

Selama beberapa tahun terakhir sebagian besar rumput laut ini telah direklasifikasi oleh ahli biologi laut karena mereka mendapatkan pengetahuan lebih tentang struktur rumput laut yang berbeda-beda. Jika Anda adalah orang yang sangat memperhatikan masalah yang terkait dengan spesies rumput laut maka selayaknya Anda hafal terhadap reklasifikasi dibawah ini.
  •  Betaphycus gelatinum direklasifikasi dengan nama Eucheuma gelatinae.
  •  Chondrus crispus tetap tidak berubah, dan umumnya dikenal sebagai "Irish Moss."
  • Eucheuma cottonii direklasifikasi dengan nama Kappaphycus alvarezii, dan nama komersialnya adalah  "cottonii".
  • Eucheuma gelatinae direklasifikasi dengan nama Betaphycus gelatinum.
  • Eucheuma spinosum direklasifikasi dengan nama Eucheuma denticulatum dan nama komersial adalah  "spinosum".
  • Gigartina canaliculata tetap dan tidak berubah.
  • Gigartina skottsbergii tetap dan tidak berubah.
  • Gigartina stellata, direklasifikasi dengan nama  Mastocarpus stellatus.
  • Hypnea musciformis tetap tidak berubah.
  • Iridaea ciliata direklasifikasi dengan nama Sarcothalia crispata.
  • Iridaea laminaroides direklasifikasi dengan nama Mazzaella laminaroides.
  • Iridaea laminaroides direklasifikasi dengan nama Mazzaella laminaroides
  • Iridaea ciliate direklasifikasi dengan nama  Sarcothalia crispate

Habitat Alami
Masing-masing rumput laut tersebut diatas juga mempunyai habitat hidup yang berbeda dalam pertumbuhannya.
Jenis-Jenis Rumput Laut Penghasil Karagenan Dan Habitat Hidupnya
 Kappaphycus alvarezii  hidup pada  zona sublittoral, dari  bawah garis air laut surut, daerah karang di pasir-coral  ke substrat  berbatu di mana di zona tersebut kondisi aliran air lambat sampai sedang.
Jenis-Jenis Rumput Laut Penghasil Karagenan Dan Habitat Hidupnya
Eucheuma denticulatum berkembang pada daerah berpasir-coral  ke substrat berbatu di daerah yang secara  terus-menerus terkena ombak yang moderat dan arus air yang kuat.
Jenis-Jenis Rumput Laut Penghasil Karagenan Dan Habitat Hidupnya
Betaphycus gelatinum (Gambar 35) tumbuh di daerah berbatu, substrat coral, biasanya berada pada beberapa meter dari tepi karang, di mana ia terkena  gelombang kuat dan turbulensi air laut.
Jenis-Jenis Rumput Laut Penghasil Karagenan Dan Habitat Hidupnya
Chondrus crispus  tumbuh  biasanya tumbuh di pinggiran pesisir hingga kedalaman  20 m di bawah air terendah rata-rata, tergantung pada aktifitas  gelombang, transparansi sinar matahari dan struktur berbatu disekitarnya. Biasanya banyak ditemukan dalam jumlah besar pada air rendah pada zona pertengahan sublittoral.  Rumput laut jenis ini akan tumbuh baik pada tepian batu yang stabil dan batu-batu besar berkontur  horisontal,  tumbuh tidak begitu baik pada batuan-batuan kecil atau batu sedimen tertutup. Saat pertumbuhan terbaiknya adalah di akhir musim semi dan musim panas dan pada saat musim dingin pertumbuhannya tidak banyak.
Jenis-Jenis Rumput Laut Penghasil Karagenan Dan Habitat Hidupnya
Gigartina skottsbergii  tumbuh di daerah sublittoral pada kedalaman 9-15 m. Yang terbaik tumbuh pada  musim panas
Jenis-Jenis Rumput Laut Penghasil Karagenan Dan Habitat Hidupnya
Sarcothalia crispata ditemukan pada zona eulittoral ke sublittoral, hingga kedalaman 10 m.

Mazzaella laminaroides tumbuh di zona eulittoral pada zona gelombang terpajan, juga di muara.

Jenis-Jenis Rumput Laut Penghasil Karagenan Dan Habitat Hidupnya
Jenis-Jenis Rumput Laut Penghasil Karagenan Dan Habitat Hidupnya
Gigartina canaliculata dan Hypnea musciformis banyak tumbuh  di zona eulittoral.



Negara-Negara Penghasil Rumput Laut Bahan Baku Karagenan (Carrageenophytes)

Industri pengolahan rumput laut menggunakan beberapa jenis rumput laut dalam pembuatan karagenan. Ada beberapa metode yang digunakan dalam ekstraksi rumput laut untuk menghasilkan karagenan,  Meskipun  menggunakan metode yang berbeda namun tujuannya sama yaitu memisahkan karagenan dan zat-zat lain yang terkandung dalam rumput laut.

Di dunia ini  terdapat berbagai macam jenis rumput laut yang merupakan bahan dasar pembuatan karagenan atau biasa disebut sebagai Carrageenophytes, rumput laut tersebut sebagian dipanen dari alam dan sebagian lainnya telah dibudidayakan. Indonesia adalah salah satu Negara yang telah melakukan budidaya Carrageenophytes dari jenis Kappapicus Alavarezii dan Spinossum

Kappaphycus alvarezii (Cottonii) dan Eucheuma denticulatum (Spinossum) awalnya  diambil dari alam, dua jenis jenis rumput laut ini tumbuh secara alami di Indonesia dan Filipina. Pada 1970-an, budidaya dimulai di kedua negara ini dan sekarang Indonesia dan Philipina menjadi pememasok sebagian besar spesies ini ke seluruh dunia, dan saat ini hanya spinossum yang dipanen dari alam sedangkan Cottonii dihasilkan dari lahan budidaya.  Selanjutnya budidaya Carrageenophytes menyebar ke negara-negara lain, dan tercatat yang paling berhasil dalam membudidayakan rumput laut ini adalah Negara  Tanzania (Zanzibar), Viet Nam dan beberapa Kepulauan Pasifik, seperti di Kiribati. Betaphycus gelatinum liar dipanen terutama di pulau Hainan, China, Taiwan dan Filipina.
Negara-Negara Penghasil Rumput Laut Bahan Baku Karagenan (Carrageenophytes)
Rumput Laut kering bahan baku pembuat Karagenan
Crispus Chondrus dipanen untuk produksi karagenan di Kanada (Nova Scotia dan Prince Edward Island), Amerika Serikat (Maine dan Massachusetts) dan Perancis.

Gigartina skottsbergii, Sarcothalia crispata dan Mazzaella laminaroides semua dipanen dari alam di laut Chili, terutama Chili tengah di Valparaiso hingga Pulau Chiloe.

Gigartina skottsbergii banyak diambil  dari laut Argentina.

Gigartina canaliculata dipanen dari laut Meksiko (Baja California), yang terdapat di selatan  Ensenada hingga Punta San Antonio. Hypnea musciformis banyak dihasilkan di sepanjang  garis pantai Brazil, namun produksinya tidak menentu.

Industri Karagenan membutuhkan sekitar 13 persen dari rumput laut kering yang digunakan setiap tahunnya,  untuk produksi karagenan berbahan baku Gigartina. Rumput laut Gigartina sendiri mengandung lambda karaginan dan sedikit kappa karagenan.  Sementara  itu 1000 - 2000 ton berasal dari sumber yang lebih tua, seperti Perancis dan Kanada, dan lebih dari 90 persen saat ini berasal dari laut Chili.

Di Chile sebagian besar bahan baku pembuat Karagenan berasal dari alam dan masih sangat sedikit yang dibudidayakan. Agarophytes yang diambil dari laut Chili adalah dari jenis Gigartina skottsbergii. Rumput laut ini tumbuh di sepanjang laut Puerto Montt  hingga Puenta Avenas.

Sejauh ini mungkin kita beranggapan bahwa rumput laut penghasil Karagenan hanyalah Eucheuma Cottonii dan Eucheuma Spinossum saja, karena di Indonesia sejauh ini hanya dari dua jenis rumput laut ini yang digunakan sebagai bahan baku karagenan, namun sebenarnya ada banyak jenis rumput laut lain yang juga dapat digunakan sebagai pembuat Karagenan. Tuhan telah, menebarkan kasih sayangNya pada setiap lingkungan dimana manusia berada dengan cara yang berbeda, termasuk memberikan perbedaan jenis rumput laut pada kondisi alam yang berbeda.




Proses Pembuatan Semi Refined Carraggenan (SRC)

Semi Refined Carrageenan (SRC) adalah produk Karagenan selain Refined Carrageenan dengan kemurnian dibawah Refined Carrageenan. Disebut sebagai Semi Refined Carrageenan karena produk ini belum murni sebagai Karagenan. Metode pembuatannyapun berbeda dengan pembuatan refined carrageenan. Metode pembuatan SRC lebih sederhana dan karagenan tidak  benar-benar diambil dari rumput laut namun masih menyisakan bahan-bahan lain yang terkandung di dalam rumput laut. Bagaimana mmetode pembuatan Semi Refined Carrageenan?, berikut ini dasar-dasar cara pembuatan Semi Refined Carrageenan.

Dalam proses produksi SRC, Rumput laut Kappaphycus alvarezii (Cottonii), ditempatkan di dalam keranjang logam, kemudian dipanaskan dalam larutan alkali kalium hidroksida selama sekitar dua jam. Hidroksida merupakan bagian dari pereaksi yang akan melakukan penetrasi terhadap rumput laut serta akan mengurangi jumlah sulfat dalam karagenan dan meningkatkan 3,6-AG sehingga kekuatan gel dari karaginan dalam rumput laut mengalami perbaikan.
Proses Pembuatan Semi Refined Carraggenan (SRC)
Rumput Laut Eucheuma Cottonii yang telah melalui proses pencucian
Kalium juga merupakan bagian dari pereaksi yang akan terkombinasi  dengan karagenan dalam rumput laut untuk menghasilkan gel dan hal ini akan mencegah karagenan itu sendiri  larut dalam larutan panas. Namun demikian proses ini akan menyebabkan protein soluble dan  karbohidrat akan terkuras habis dari rumput laut ketika berlangsung proses produksi.
  .
Residu, yang masih terlihat seperti rumput laut, dicuci beberapa kali untuk menghilangkan alkali dan apa saja yang dapat larut dalam air. Setelah itu dilakukan penjemuran,  setelah sekitar dua hari rumput laut dicincang dan dimasukkan ke pabrik untuk digiling untuk dibuat menjadi tepung yang kemudian dijual sebagai SRC atau tepung rumput laut.

Namun dalam proses ini tepung tidak bisa menjadi putih dan biasanya berwarna krem dan masih mengandung bakteri dalam jumlah banyak dan tidak cocok untuk dikonsumsi manusia. Produk ini  kemudian banyak digunakan sebagai  makanan binatang (pet food) yang dikemas dalam kaleng,  karena merupakan  agen gelling yang baik dan jauh lebih murah daripada karagenan halus. Suhu yang digunakan dalam proses pengalengan mampu membunuh  bakteri sehingga jumlah bakteri yang banyak  didalam  SRC masih aman dikonsumsi oleh binatang.
Proses Pembuatan Semi Refined Carraggenan (SRC)
Bagan proses pembuatan Semi Refined Carrageenan
Kadang-kadang produk kering hanya dipotong-potong dan tidak digiling, dan dijual sebagai bahan baku untuk untuk pembuatan Refined Carrageenan yang  disebut sebagai  Alkali Treated Cottonii (ATC) atau  Alkali Treated Cottonii Chips (ATCC), atau bahkan hanya cottonii yang berupa Chips. Jika proses ini dilakukan di negara asal rumput laut, seperti Filipina atau Indonesia, ini berarti prosesor di Eropa dan Amerika Serikat atau Negara lainnya akan menanggung  biaya transportasi yang lebih murah per ton karaginan, dibandingkan dengan pengiriman rumput laut kering. Prosesor juga akan mengeluarkan biaya lebih murah terkait dengan limbah produksi, yang secara otomatis akan mengurangi biaya pengolahan limbah.

Kappaphycus alvarezii adalah jenis rumput laut yang didigunakan dalam proses ini karena mengandung  karagenan kappa yang tinggi dan merupakan karagenan yang  membentuk gel dengan garam kalium. Karagenan Iota yang dibuat dari rumput laut Spinossum juga dapat diolah dengan metode ini, meskipun pasar untuk iota karaginan secara signifikan lebih kecil dibandingkan dengan kappa karagenan. Lambda karagenan tidak dapat  membentuk gel dengan kalium serta akan larut dan hilang selama treatment dengan menggunakan  alkali.

Kesederhanaan dalam proses pembuatan SRC membuat biaya produksi lebih murah sehingga harga produknyapun juga jauh lebih murah daripada Refined Carrageenan. Tidak melibatkan Alkohol yang harus dipulihkan, tidak ada peralatan distilasi untuk memurnikan alkohol, tidak ada peralatan untuk membuat gel, tidak ada pendingin untuk membekukan gel, maupun perangkat mahal untuk memeras air dari gel.


Proses Dan Cara Pembuatan Tepung Agar-Agar

Sebuah deskripsi singkat dan sederhana dari prosess ekstraksi agar dari rumput laut adalah bahwa, rumput laut dicuci untuk menghilangkan benda asing dan kemudian dipanaskan dengan air selama beberapa jam. Agar-agar larut dalam air dan campuran disaring untuk menghilangkan residu rumput laut.

Filtrat panas didinginkan kemudian akan membentuk gel (jelly) yang berisi sekitar 1 persen agar. Gel diiris menjadi potongan-potongan kecil kemudian dicuci untuk membuang larutan garam, dan jika perlu ditambahkan  pemutih untuk mengurangi warna buram pada agar-agar. Kemudian air akan dipisahkan dari gel, baik dengan proses freez-thaw atau dengan squeezing dengan menggunakan tekanan. Setelah perlakuan tersebut, air yang tersisa dikeringkan dengan  oven. Produk ini kemudian digiling menjadi ukuran partikel yang sesuai dan seragam sesuai keinginan.
Proses Dan Cara Pembuatan Tepung Agar-Agar
Rumput laut Gracilaria kering, bahan baku pembuat tepung agar-agar
Untuk lebih memahami dari proses pembuatan Agar-agar, berikut ini beberapa rincian proses pembuatan dan beberapa masalah penting  yang perlu dijelaskan. Ada beberapa perbedaan dalam perlakuan rumput laut sebelum dilakukan ekstraksi, tergantung pada jenis rumput laut yang digunakan. Untuk rumput laut Gelidium dilakukan pencucian terlebih dahulu untuk menghilangkan pasir, garam, kerang dan benda asing lainnya dan kemudian dimasukkan ke dalam tangki kemudian diekstraksi dengan air panas. Untuk Gracilaria juga dilakukan pencucian, tapi untuk rumput laut jenis ini harus diproses dengan dengan menggunakan alkali sebelum ekstraksi,  pra-perlakuan basa ini akan menyebabkan perubahan kimia pada agar yang dihasilkan dari Gracilaria, perlakuan ini akan membuat peningkatan kekuatan gel  (gel strength) pada agar dari. Tanpa pra-perlakuan alkali ini, rata-rata spesies Gracilaria akan menghasilkan  agar dengan kekuatan gel yang terlalu rendah untuk penggunaan komersial.

Untuk perlakuan alkali, rumput laut dipanaskan dengan menggunakan 2-5 persen natrium hidroksida pada suhu 85-90°C selama 1 jam,  kekuatan penggunaan alkali bervariasi tergantung pada spesies yang akan di ekstraksi dan ditentukan dalam pengujian dalam skala kecil terlebih dahulu. Setelah proses penghilangan alkali, rumput laut dicuci dengan air, kadang juga diperlukan  asam sangat lemah untuk menetralisir sisa alkali.

Untuk ekstraksi dengan menggunakan air panas, Gelidium lebih tahan dengan ekstraksi berada di bawah tekanan (105-110 °C selama 2-4 jam) lebih cepat dan akan menghasilkan yield yang lebih tinggi. Untuk rumput laut Gracilaria biasanya diekstraksi  dengan air pada 95-100 ° C selama 2-4 jam. Selanjutnya dari proses ini adalah sama untuk kedua jenis bahan baku. Filtrat panas disaring dengan  filtrasi kasar untuk menghilangkan residu rumput laut, tambahan alat penyaring ditambahkan kemudian ekstrak ditekan  melalui filter press yang dilengkapi dengan kain saring halus. Ekstrak tersebut dalam kondisi kental dan akan menjadi gel jika dibiarkan dingin, sehingga harus tetap dalam kondisi panas selama proses filtrasi dilakukan.

Selanjutnya Filtrat didinginkan  supaya  terbentuk  gel, kemudian diiris hingga menjadi potongan-potongan kecil. Gel ini mengandung sekitar 1 persen agar. Sisanya sebanyak  99 persen adalah air yang  mengandung garam, bahan pewarna dan karbohidrat larut. Gel dapat ditreatment  dengan pemutih untuk mengurangi warna buram, kemudian  dicuci untuk menghilangkan pemutih, dan kemudian dibiarkan terendam di dalam air sehingga sebagian besar garam dapat hilang  dengan proses osmosis. Air pencucian dibuang  selanjutnya pemisahan  99%  air dari gel.  Ini adalah salah satu dari dua metode yang  digunakan untuk proses pembuatan agar-agar.

Metode asli penghilangan air dari agar adalah proses freeze-thaw. Gel secara perlahan akan membeku sehingga membentuk kristal es besar. Struktur gel dipecah dengan pembekuan sehingga ketika bahan tersebut mencair sebagian besar air menetes dan akan  menyisakan gel yang terkonsentrasi  dan mengandung sekitar 10-12 persen agar (ini berarti sekitar 90 persen kadar air asli telah hilang bersamaan dengan garam, karbohidrat larut dan protein larut yang  tercampur di dalam gel).

Metode lain yang kadang digunakan adalah,  gel ini ditempatkan di antara kain penyaring berpori dan diperas dalam tekan hidrolik untuk menghilangkan lebih banyak air. Namun,  proses ini sangat  lambat, dan biasanya bahan dicairkan secara sederhana, ditiriskan kemudian dimasukkan di dalam oven. Setelah gel menjadi kering, kemudian  digiling dengan ukuran partikel sesuai yang diinginkan, biasanya sekitar 80-100 mesh size. Proses  freeze-thaw ini relatif mahal namun kemudian tekhnologi pembuatan agar-agar terus berkembang dengan ditemukannya tekhnik-tekhnik baru pemisahan gel dan air salah satunya adalah metode alternative dibawah ini.
Proses Dan Cara Pembuatan Tepung Agar-Agar
Alur proses pembuatan tepung Agar-agar
 Metode Alternatif
Dalam proses alternatif yang digunakan  sangat tergantung pada synaeresis.  Synersis adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan suatu pemisahan cairan dari gel. Contoh sederhananya  adalah misalnya  selai atau manisan disimpan didalam sebuah stoples dan dibiarkan selama beberapa hari, maka akan terlihat cairan yang menggenang  permukaannya.  Namun dalam  proses pembuatan  agar, untuk mengeluarkan air dari dalam gel digunakan tekanan  untuk mendorong cairan keluar dari dalam gel.

Peralatan yang digunakan  adalah dua pelat logam beralur yang dibagian tengahnya diberikan kain berpori dan agar gel ditempatkan di antara dua kain penyaring, seperti sandwich dengan pelat logam berada di luar, diantara lapisan kain, gel agar-agar berada di tengahnya. Kemudian pelat logam ditekan dari luar dengan tekanan  sangat lambat dan terus meningkat selama sekitar 24 jam. Dengan demikian cairan keluar dari gel melalui lubang kain yang sangat halus, kemudian air keluar melalui alur dari pelat logam  ke saluran pembuangan.

Alat ini terdiri dari sekitar lima puluh unit lapisan “sandwich”  yang semuanya dalam bidang vertikal, semua ditempatkan pada satu ruang yang disusun berjajar kemudian diberikan  tekanan dengan menggunakan alat hidrolik  (Gambar 10). Setelah dilakukan penekanan dalam waktu tertentu, kemudian  tekanan dilepaskan, setelah pelat logam dipisahkan maka akan menyisakan gel yang berada diantara dua kain sekitar 20 persen agar dan pada akhirnya agar diambil dari kain. Setelah itu gel  iris dan dikeringkan dalam oven sebelum digiling dengan ukuran partikel yang diingnkan, biasanya sekitar 80-100 mesh size.

Dengan tanpa refrigeration yang diperlukan, konsumsi energi jelas jauh lebih rendah dibandingkan metode freez-thaw, juga karena lebih banyak air yang telah dipisahkan dan hanya agar yang  tersisa, maka  agar yang dihasilkanpun lebih murni. Metode ini juga membutuhkan  energy  yang relative  kecil dalam proses pengeringan karena air  yang dibuang lebih sedikit. Proses yang  didasarkan pada synaeresis ini telah banyak diadopsi oleh produsen agar-agar dalam skala besar yang mempunyai cukup modal  untuk pengadaan peralatan ini.

Ketersediaan air tawar dalam jumlah besar dan dapat diandalkan adalah merupakan persyaratan utama  untuk pabrik agar-agar. Pengolahan rumput laut Gracilaria membutuhkan lebih banyak air daripada Gellidium. Penggunaan air yang banyak berarti limbah yang dikeluarkan akan lebih banyak sehingga diperlukan daur ulang terhadap limbah yang dikeluarkan oleh proses produksi.


Rumput Laut Bahan Baku Agar-Agar Dan Habitat Hidupnya

Kebanyakan agar- agar diekstrak dari rumput laut spesies Gelidium  dan Gracilaria. Spesies yang mempunyai ke dekatan dengan hal Gelidium adalah spesies Pterocladia,Spesies ini ditemukan di Azores (Portugal) dan Selandia Baru meskipun jumlahnya tidak begitu banyak. Gelidiella acerosa adalah sumber utama agar di India. Spesies Ahnfeltia digunakan di Rusia dan Jepang juga untuk pembuatan agar, di Rusia spesies ini ditemukan di pulau Sakhalin (Rusia).

Sebelum kita membahas lebih lanjut tentang habitat hidup rumput laut yang biasa digunakan sebagai bahan baku pembuat agar-agar, sebagai tambahan pengetahuan akan kita bahas tentang zona laut dimana makhluk hidup laut menggunakannya sebagai tempat  tinggal, termasuk di dalamnya rumput laut.  Pembahasan ini diperlukan untuk menggambarkan dimana keberadaan rumput laut tumbuh.

Dimensi vertikal pantai dibagi menjadi dalam beberapa zona. Istilah umum yang biasa digunakan untuk menggambarkan kondisi ini adalah zona intertidal dan zona subtidal.  Orang sudah familiar dengan pasang surut air laut akan dapat dengan  mudah memahami istilah-istilah ini. Zona intertidal adalah bagian dari pantai yang terletak pada tingkat tertinggi dan terendah  saat  air laut dalam kondisi  pasang. Sedangkan zona subtidal adalah tempat dimana lokasi tersebut berada di bawah garis ketika air laut tingkat air surut.  Kadang-kadang zona intertidal disebut zona pesisir.
Rumput Laut Bahan Baku Agar-Agar Dan Habit Hidupnya
Gellidium, bahan baku pembuat agar-agar
Rumput Laut Bahan Baku Agar-Agar Dan Habit Hidupnya
Gracilaria, rumput laut bahan baku agar-agar yang banyak dibudidayakan di tambak Indonesia
Namun demikian ahli biologi mempunyai sudut pandang yang berbeda,  mereka lebih suka  menggunakan istilah yang mendefinisikan zona dengan apa yang biasanya tumbuh di dalamnya. Sehingga didefinisikan dengan bantuan garis, di mana organisme menerima pembasahan oleh air laut secara tidak teratur , maka pada garis ini disebut sebagai garis zona eulittoral.

 Di bawah garis ini, dimana organisme selalu terendam dalam air dan jarang tidak terkena air, maka zona  ini disebut sebagai garis zona sublittoral. Zona ini tidak selalu bergantung pada tingkat pasang,  batas atas zona eulittoral dibatasi oleh teritip dan batas bawah adalah titik tertinggi di mana ganggang cokelat besar dapat ditemukan tumbuh ditempat ini. Di atas tepi zona eulittoral, di luar teritip, adalah zona yang hanya dicapai oleh percikan ombak  dan ini disebut sebagai pinggiran pesisir.

Habitat hidup Gelidium
Gelidium tumbuh baik pada arus air yang cukup deras, yang berada di zona eulittoral dan sublittoral, tergantung pada spesies Gellidium itu sendiri. Algae ini dapat ditemukan pada kedalaman air mulai dari 2 hingga 20 meter. Gelidium banyak hidup pada daerah berbatu dengan lereng curam, dan jarang ditemukan di dasar laut berlumpur atau berpasir . Gellidium  biasanya akan tumbuh baik pada suhu air pada 15-20 ° C,  namun alga ini masih dapat mentolerir suhu yang lebih tinggi, bahkan juga  dapat bertahan hidup dalam kondisi laut dengan unsure hara rendah dan juga beberapa spesieslainnya mampu beradaptasi dengan salinitas baik rendah maupun tinggi.

Habitat Hidup Gracilaria
Salah satu rumput laut penghasil agar-agar adalah Gracilaria, rumput laut ini biasanya tumbuh di zona eulittoral pada bagian atas zona sublittoral, dengan kondisi dasar perairan terdapat sedimen  berpasir atau berlumpur dan terlindung dari gelombang dengan kondisi air payau. Oleh karena itu di Indonesia rumput laut jenis ini banyak dibudidayakan di tambak. Gracilaria akan tumbuh baik pada temperature antara 15 hingga 30°C. Rumput laut Gracilaria banyak dibudidayakan di wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Bali NTB dan Jawa.


Negara-Negara Penghasil Rumput Laut Gracilaria Dan Gellidium

Rumput laut bahan baku pembuatan agar-agar (Agarophyte) dihasilkan dari berbagai belahan dunia, termasuk juga di Indonesia. Hingga saat ini Agarophyte dihasilkan dari dua jenis rumput laut yaitu Gellidium dan Gracilaria, kedua jenis rumput laut ini hidup secara luas dilaut baik hidup di perairan dingin maupun panas.

Rmput laut Gelidium hidup tersebar di wilayah geografis yang luas di berbagai negara. Terbesar dihasilkan dari pantai utara Spanyol, bagian tengah hingga ujung selatan pantai Portugal, dan pantai barat Maroko. Dalam jumlah yang lebih kecil ditemukan di Teluk Biscay pantai di sebelah barat daya Perancis. 

Sebelum Perang Dunia Kedua,  Jepang  merupakan sumber utama penghasil Gellidium terbesar di dunia, tetapi kemudian  industrialisasi telah menyebabkan menipisnya stok alam di Negara Sakura ini, dan jumlah hasil panen Jepang saat ini mirip dengan negara-negara penghasil Gellidium lainnya seperti Spanyol dan Maroko. Sementara itu Republik Korea memanen Gellidium untuk kepentingan komersial bagi industri lokal, di daerah sekitar pelabuhan selatan Pusan​​. Di Meksiko, Gelidium dipanen dari pantai Pasifik di daerah Baja California. Untuk jenis Gellidium Spesies air hangat dipanen secara  alami di pantai selatan Jawa, Sumatera dan pulau-pulau lain di Indonesia yang terletak di antara Pulau Jawa dan Timor. Penghasil Gellidium lainnya adalah adalah Chile, China, Prancis dan Afrika Selatan, meskipun jumlahnya tidak terlalu banyak.
Negara-Negara Penghasil Rumput Laut Gracilaria Dan Gellidium
Penjemuran rumput laut Gracilaria di salah satu gudang di Palopo, Indonesia
 Demikian juga dengan rumput laut Gracilaria, Rumput laut yang banyak dibudidayakan di Indonesia di areal tambak ini juga banyak dihasilkan diberbagai Negara, yang hidup sesuai dengan kondisi iklim dan spesies yang berbeda. Di Indonesia banyak dihasilkan didaerah Sulawesi, Jawa dan Bali. Gracilarian juga dihasilkan di Chile selatan dan pantai Atlantik Kanada. Chili adalah Negara yang merintis budidaya secara komersial dari rumput laut Gracilaria dengan menggunakan spesies Gracilaria chilensis, asli pantai selatan yang  mengandung agar berkualitas tinggi. Ada juga Gracilaria liar yang dihasilkan di wilayah Chili. Gracilaria liar juga dihasilkan dari lautan Argentina dan Brazil, meskipun kuantitas kwantitas dan kwalitasnya tidak sebagus Gracilaria asal Chile

Negara China juga memproduksi Gracilaria dalam jumlah yang cukup signifikan, terutama di provinsi-provinsi selatan Guangxi dan Hainan, di tempat ini Gracilaria dibudidayakan di tambak dan muara sungai, Gracilaria juga dibudidayakan di wilayah Taiwan. Sebuah upaya yang lebih terpadu juga telah dilakukan di Viet Nam dalam beberapa tahun terakhir, dengan berbagai spesies Gracilaria yang tumbuh di laguna dan tambak di wilayah utara dan selatan. Di Pantai-wash, Rumput laut  Gracilaria juga  telah dipanen di wilayah Luderitz (Namibia) untuk beberapa tahun belakangan ini. Pada beberapa tahun yang lalu budidaya sukses juga  telah dicapai di Luderitz Bay. 

Sejak Perang Dunia II, rumput laut Gracilaria liar juga diambil dari Saldanha Bay di pantai barat Afrika Selatan. Di Thailand selatan, rumput laut Gracilaria juga telah menjadi sumber pendapatan bagi perempuan yang mengambil Gracilaria  mengambang  dari danau pasang surut dan laguna.



Cara Memilih Lokasi Untuk Budidaya Rumput Laut Eucheuma Cottonii

Sejak 20 tahun terakhir masyarakat pesisir pantai Indonesia telah mendapatkan sumber penghasilan baru dari laut yaitu dengan di galakannya budidaya rumput laut diberbagai daerah di Indonesia. Jenis rumput laut yang banyak dibudidayakan adalah dari jenis Eucheuma Cottonii, rumput laut jenis ini mudah dibudidayakan dan mempunyai masa panen yang relative singkat yaitu 45 hari. Dengan cara budidaya yang mudah dan masa panen yang singkat membuat budidaya rumput laut diminati oleh masyarakat, apalagi budidaya rumput laut tidak mengharuskan petani membeli lahan pertanian mereka  dan hanya menggunakan lahan yang terbentang luas di laut dengan menyedikan sarana budidaya yang dibutuhkan.

Banyak masyarakat pantai mendulang sukses dari aktifitas budidaya rumput laut ini, mulai dari petani, pengmpul local hingga xportir rumput laut. Rumput laut juga telah banyak merubah pola hidup masyarakat yang sebelumnya menjadi penangkap ikan dilaut yang penuh resiko beralih menjadi petani rumput laut yang lebih menjanjikan.
Cara Memilih Lokasi Untuk Budidaya Rumput Laut Eucheuma Cottonii
Pemilihan lokasi yang tepat akan menentukan keberhasilan budidaya rumput laut Eucheuma Cottonii

Di wilayah perairan Indonesia ada beberapa metode budidaya rumput laut yang biasa digunakan oleh masyarakat. Penggunaan metode penanaman di dasarkan pada kondisi lokasi budidaya yang digunakan. Metode budidaya yang digunakan oleh masyarakat adalah:
1.    Metode lepas dasar
2.    Metode Long Line
3.    Metode rakit apung
Keberhasilan budidaya rumput laut ditentukan oleh banyak factor yang saling terkait antara satu dengan lainnya. Hal ini perlu mendapatkan perhatian yang lebih untuk keberhasilan budidaya rumput laut yang akan dilakukan. Salah satu hal yang harus diperhatikan adalah pemilihan lokasi budidaya.


Pemilihan Lokasi Budidaya
Pemilihan lokasi budidaya untuk rumput laut sangat pnting dilakukan, hal ini sangat penting dilakukan karena terkait dengan metode yang akan digunakan, proses perawatan, kondisi alam disekitarnya dan lain-lain. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemilihan lokasi budidaya adalah:


a.    Kebersihan Air laut
Pilihlah lokasi yang jauh dari pusat perindustrian karena biasanya lokasi yang dekat dengan pusat industry akan membuat lokasi laut disekitarnya tercemar oleh limbah industry yang akan menyebabkan air laut terkontaminasi bahana-bahan kimia yang akan mengganggu pertumbuhan rumput laut bahkan bisa jadi akan menyebabkan kematian pada bibit yang dubudidayakan. Limbah industry juga akan berdampak pada kandungan kimia rumput laut yang bisa saja membahayakan bagi kesehatan tubuh manusia saat rumput laut dikonsumsi oleh manusia. Kebersihan air laut juga akan membuat rumput laut lebih leluasa dalam mlakukan foto sintesis sehingga pertumbuhannya akan lbih optimal.
Cara Memilih Lokasi Untuk Budidaya Rumput Laut Eucheuma Cottonii
Air laut yang jernih akan memudahkan proses fotosintesis

b.    Letak Lokasi budidaya
Letak lokasi budidaya juga sangat pnting diperhatikan, pilihlah lokasi yang terlindung dari terjangan ombak besar yang akan membuat rumput laut patah dan hanyut terbawa ombak. Lokasi yang disarankan adalah lokasi yang berada diantara dua pulau dan terhubung dengan lautan luas. Lokasi ini akan membuat air laut terlindung dari badai yang akan membuat ombak jadi dras yang dapat membuat kerusakan pada rumput laut yang dibudidayakan, selain itu biasanya lokasi yang berada diantara dua pulau adalah lokasi yang cukup dangkal sehingga akan lebih memudahkan dalam proses perawatan rumput laut.


c.    Arus Air Laut
Dalam memperoleh nutrisi untuk pertumbuhannya, rumput laut sangat menggantungkan diri pada arus air laut, apalagi dalam budidaya ini rumput laut dalam keadaan terikat. Suplay makanan pada rumput laut sangat tergantung pada kebakan arus air yang melalui habitat hidup mereka. Pilihlah tempat dengan arus air moderat, tidak terlalu deras juga tidak terlalu tenang dan terhubung dengan lautan luas yang akan memungkinkan terjadinya pergantian air dengan kondisi air yang baru. Arus air yang moderat  akan membuat kotoran yang menempel sepert lumpur dan kotoran lainnya akan tercuci dengan secara otomatis, disamping itu nutrisi baru akan selalu diperoleh seiring dengan pergantian air yang erjadi. Kecepatan arus air laut yang ideal adalah arus antara 20 – 40 kuik/detik


d.    Kondisi dasar laut
Kondisi dasar laut dengan komposisi pasir lebih banyak daripada lumpur adalah pertimbangan lain dalam pemilihan lokasi, kondisi dasar air laut yang terlalu berlumpur akan membuat rumput laut menjadi terkotori oleh lumpur yang akan menempel pada thallus dan akan menyebabkan rumput laut mudah terserang oleh penyakit dan menjadi penghalang bagi rumput laut dalam memperoleh sinar matahari. Kondisi dasar laut yang terdiri dari pasir dan pecah-pecahan batu karang lebih disarankan untuk budidaya rumput laut Eucheuma Cottonii.


e.    Kedalaman Air
Mengetahui kedalaman rumput laut sangat penting dilakukan untuk menentukan metode tanam yang akan dilakukan. Laut dengan kedalaman antara 30 hingga 60 CM pada saat surut terendah dengan arus sedang hingga kencang digunakan untuk metode tanam lepas dasar. Laut dengan kedalaman antara 2 hingga 15 meter digunakan untuk metod tanam rakit apung dan long line (metode rawai). Metode ini digunakan untuk menghindari rumput laut mengalami kekeringan  dan mengoptimalkan perolehan sinar matahari dengan memanfaatkan pergerakan air laut pada saat pasang dan surut


f.    Kadar Garam
Salinitas (kadar garam) yang paling ideal dalam pertumbuhan rumput laut Eucheuma Cottonii adalah pada kisaran 28 hingga 35 ppt. Rumput laut jenis ini mmpunyai karakter stenohaline dimana rumput laut Eucheuma Cottonii tidak tahan terhadap perbedaan salinitas yang terlalu ekstrim, bahkan rumput laut E.Cottonii akan mati jika terkontaminasi dengan air tawar. Untuk mendapatkan salinitas air standar, plihlah tempat yang tidak berdekatan dengan muara sungai. Muara sungai biasanya mempunyai salinitas yang rendah.


g.    Kecerahan
Pilihlah lokasi dimana lokasi tersebut adalah lokasi yang tidak terlindung dari sinar matahari. Seperti tanaman darat, rumput laut juga membutuhkan sinar matahari dalam proses fotosintesisnya sehingga sangat membutuhkan sinar matahari dalam pertumbuhannya. Rumput laut yang kurang mendapatkan sinar matahari akan membuat rumput laut tumbuh memanjang dengan batang yang kurus dan tidak berbobot. Kecerahan juga akan memungkinkan rumput laut mendapatkan suhu yang ideal dalam pertumbuhannya, suhu ideal yang dibutuhkan dalam pertumbuhan rumput laut adalah antara  20 – 28 oC, dengan kecerahan  lebih dari 1 meter di atas permukaan air. Persyaratan tersebut sangat penting diperhatikan, agar rumput laut masih mendapat panetrasi sinar matahari yang sangat berguna untuk sumber energi dalam proses fotosintesis. 
Cara Memilih Lokasi Untuk Budidaya Rumput Laut Eucheuma Cottonii
Sebuah gubug dibangun ditengah areal budidaya untuk menyimpan rumpu laut kering

h.    Lokasi dekat dengan pemukiman
Rumput laut harus mendapatkan perhatian secara rutin dalam pertumbuhannya, oleh karena itu dibutuhkan perawan secara intensif. Lokasi yang dekat dengan pemukiman akan membuat petani mempunyai banyak waktu dan tidak membuang banyak waktu untuk perjalanan dalam melakukan perawatan. Disamping itu lokasi yang dekat dengan pemukiman juga akan lebih mempermudah pada pengelolaan pasca panen seperti penjemuran dan pengangkutan. Jika terpaksa harus melakukan budidaya pada lokasi yang jauh dari pemukiman, buatlah saung atau gubuk di sekitar daerah budidaya, seperti yang dilakukan di beberapa daerah di Maluku.


Itulah beberapa hal yang harus diperhatikan dalam budidaya rumput laut Eucheuma Cottonii, hal ini sangat penting sekali untuk diperhatikan untuk keberhasilan rumput laut yang dibudidayakan.


Metode Budidaya Rumput Laut Eucheuma Cottonii Dan Analisa Budidayanya

Dalam budidaya rumput laut Eucheuma Cottonii ada beberapa metode yang biasa digunakan oleh petani, penggunaan metode yang berbeda biasanya  disesuaikan dengan kondisi lokasi budidaya. Kondisi laut dengan dasar berpasir dan dasar laut berbatu tentu akan menyebabkan penggunaan metode yang berbeda. Berikut ini beberapa metode yang biasa digunakan oleh petani rumput laut.

1.    Metode Lepas Dasar
Metode lepas dasar adalah metode penanaman rumput laut Eucheuma Cottonii dengan cara menancapkan  tiang pancang pada dasar laut yang kemudian dibentangkan tali sebagai tempat untuk mnggantungkan bibit rumput laut. Metode ini biasa digunakan pada kondisi laut dengan dasar berpasir dan berlumpur sehingga tiang pancang dapat menancap ke dasar laut dengan kuat. Metode ini juga biasa digunakan pada laut dangkal dengan kedalaman 30 hingga 60 CM pada saat air laut surut.
Metode Budidaya Rumput Laut Eucheuma Cottonii Dan Analisa Budidayanya
Metode Lepas Dasar
2.    Metode Rakit Apung
Metode ini banyak digunakan pada perairan berkarang, dimana pada dasar laut tempat untuk budidaya terdiri dari batu karang yang tidak memungkinkan untuk memasang tiang pancang di dasar laut. Caranya adalah dengan membuat rakit yang terbuat dari bambu atau pipa paralon agar rumput laut dapat mengambang dipermukaan air. Kelebihan dari metode ini adalah rakit yang dibuat akan bergerak sesuai dengan pasang surut air laut sehingga kemungkinan rumput laut terpapar sinar matahari secara langsung dapat dihindari.
Metode Budidaya Rumput Laut Eucheuma Cottonii Dan Analisa Budidayanya
Metode rakit apung
3.    Metode Long Line
Metode ini dapat digunakan pada dasar laut berpasir juga pada dasar laut berkarang, peralatan yang digunakan biasanya berupa tali panjang  50 – 100 meter yang dibentangkan, dan pada kedua ujungnya diberi jangkar serta pelampung besar. Setiap 25 meter diberi pelampung utama terbuat dari drum plastic
Metode Budidaya Rumput Laut Eucheuma Cottonii Dan Analisa Budidayanya
Metode Long Line

Analisa Budidaya Rumput Laut Eucheuma Cottonii untuk 500 bentangan


ANALISA BUDIDAYA RUMPUT LAUT E.COTTONII

BIAYA INVESTASI BUDIDAYA
 500 BENTANG RUMPUT LAUT
NO
KOMPONEN IVESTASI
UNIT
JUMLAH
HARGA/
UNIT (Rp)
Jumlah
Investasi (Rp)

KEGIATAN PENANAMAN




1
Tali no 10
roll
            5
      500,000
      2,500,000
2
Tali no 8
roll
          15
      400,000
      6,000,000
3
Tali no 6
roll
          20
      300,000
      6,000,000
4
Tali no 4
roll
        125
        30,000
      3,750,000
5
Tali rafia
roll
        125
        10,000
      1,250,000
6
Pelampung
(botol air mineral )
buah
   10,000
             500
      5,000,000
7
Patok kayu
batang
        700
             500
         350,000
8
Perahu
buah
            2
   2,500,000
      5,000,000
9
Mesin perahu (6PK)
unit
            2
   2,500,000
      5,000,000
10
Jangkar (besi besar 25 kg)
unit
          20
      500,000
    10,000,000
11
Tenaga Tusuk tali
bentang
        500
          1,000
         500,000
12
Tenaga Pemasangan Lokasi
HOK
        100
        25,000
      2,500,000
13
Bibit eucheum cottonii
kg
   10,000
          2,000
    20,000,000

JUMLAH



    67,850,000







Kegiatan Penangan Panen




1
Para  para (tempat jemur) (4x5) m2
unit
          10
   1,000,000
    10,000,000
2
Bambu Jemur Gantung
batang
25
8500
         212,500
3
Terpal (4 x 6) M2
lembar
20
150000
      3,000,000
4
Karung plastik (size 100 kg)
unit
        100
          3,000
         300,000

JUMLAH



    13,512,500







TOTAL INVESTASI



    81,362,500


BIAYA PENYUSUTAN  USAHA BUDA
DAYA RUMPUT LAUT JENIS E.COTTONII
NO
KOMPONEN INVESTASI YANG
UMUR
HARGA
NILAI
BIAYA
MENGALAMI PENYUSUTAN
EKONOMIS
BELI
SISA
PENYUSUTAN
1
Tali no 10
5
    2,500,000
0
         500,000
2
Tali no 8
5
    6,000,000
0
      1,200,000
3
Tali no 6
5
    6,000,000
0
      1,200,000
4
Tali no 4
2
    3,750,000
0
      1,875,000
5
Tali rafia
1
    1,250,000
0
      1,250,000
6
Pelampung
(botol air mineral )
1
    5,000,000
0
      5,000,000
7
Patok kayu
5
       350,000
0
           70,000
8
Perahu
5
    5,000,000
    250,000
      1,000,000
9
Mesin perahu (6PK)
5
    5,000,000
    250,000
      1,000,000
10
Jangkar
 (besi besar 25 kg)
5
  10,000,000
0
      2,000,000
11
Tenaga Tusuk tali
0
       500,000

                     -
12
Tenaga
Pemasangan Lokasi
0
    2,500,000

                     -
13
Bibit
eucheum cottonii
0
  20,000,000

                     -
14
Para  para
(tempat jemur) (4x5) m2
2
  10,000,000
                -
      5,000,000
15
Bambu Jemur
Gantung
2
       212,500
0
         106,250
16
Terpal (4 x 6) M2
2
    3,000,000
0
      1,500,000
17
Karung plastic
 (size 100 kg)
0
       300,000
                -
                     -







JUMLAH



         21,701,250

PERKIRAAN BIAYA OPERASIONAL BUDIDAYA
500 BENTANG RUMPUT LAUT JENIS E.COTTONII
NO
JENIS BIAYA
SATUAN
UNIT
BIAYA PER
UNIT

BIAYA PER
MUSIM
TANAM
BIAYA
PER THN
(5 MT)

BIAYA TETAP





1
Penyusutan



     3,616,875
         21,701,250








Biaya Tetap Total



     3,616,875
         21,701,250








BIAYA VARIABEL





1
Tenaga kerja ikat bibit
bentang
           500
          1,500
         750,000
            3,750,000
2
Tenaga kerja penanaman
bentang
           500
          1,000
         500,000
            2,500,000
3
BBM perawatan
liter
           100
          5,000
         500,000
            2,500,000
4
Perawatan harian
hari
              45
          8,000
         360,000
            1,800,000
5
Olie mesin
kaleng
                3
       20,000
           60,000
               300,000
6
Penggantian botol pelampung
unit
           500
             500
         250,000
            1,250,000

(10% dr total botol)
7
Tenaga kerja panen
bentang
           500
          1,000
         500,000
            2,500,000
8
Biaya penjemuran hasil panen
bentang
           500
          1,500
         750,000
            3,750,000
9
Biaya angkut dari tempat
karung
           115
          1,000
         115,000
               575,000

jemur ke rumah








Biaya Variabel total



     3,785,000
         22,710,000

Total Biaya Produksi



     7,401,875
         37,009,375



PERKIRAAN PENERIMAAN PENJUALAN
500 BENTANG RUMPUT LAUT JENIS E.COTTONII
KOMPONEN
PENERIMAAN

KONDISI
MUSIM

PRODUKSI
per MT
(KG)
TOTAL
PRODUKSI
per TAHUN (kg)
HARGA
(Rp/kg)

PENERIMAAN
per MT
(Rp)
PENERIMAAN
per TAHUN
(Rp)
Hasil produksi
rata-rata
 20 kg/
bentang
dari 500 bentang
80% yg dipanen
20% untuk bibit
E.cottonii
musim baik
(3x per tahun)





              8,000
                 24,000
       6,000
        48,000,000
    144,000,000






























Hasil produksi
rata-rata
10 kg/
bentang
dari 500 bentang
80% yg dipanen
20% untuk bibit
musim
kurang baik
(2x per tahun



              4,000
                   8,000
       6,000
        24,000,000
      48,000,000
































JUMLAH
PENERIMAAN


                 32,000

        72,000,000
    192,000,000








PERKIRAAN KEUNTUNGAN USAH
 500 BENTANG RUMPUT LAUT JENIS E.COTTONII


KONDISI
PENERIMAAN (RP)
BIAYA (Rp)
KEUNTUNGAN (RP)
MUSIM
per MUSIM
TANAM

PER
TAHUN

per MUSIM
TANAM

per
TAHUN

per MUSIM
TANAM

per
TAHUN



BAIK-
    48,000,000
  144,000,000
      7,401,875
  22,205,625
   40,598,125
   121,794,375







KURANG BAIK
    24,000,000
     48,000,000
      7,401,875
  14,803,750
   16,598,125
     33,196,250







TOTAL

  192,000,000

  37,009,375

   154,990,625








KERAGAAN USAHA BUDIDAYA 500 BENTANG RUMPUT LAUT JENIS E.COTTONII
NO
KOMPONEN KERAGAAN USAHA
SATUAN
NILAI
1
NILAI INVESTASI

                  81,362,500
2
BIAYA TOTAL (total cost = TC)
RP
            37,009,375.00
3
PENERIMAAN TOTAL (total revenue = TR)
RP
          192,000,000.00
4
PENDAPATAN TOTAL (keuntungan)
RP
          154,990,625.00
5
R/C RATIO = TR/TC
TDK ADA
                               5.19
6
PAYBACK PERIOD (PP)
TAHUN
                               0.52

(investasi/keuntungan)











-->
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Free Zone Film - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger