Now Playing :
Showing posts with label Keanehan. Show all posts
Showing posts with label Keanehan. Show all posts

Mengungkap Misteri Hilangnya Budaya Kuno Chaco Canyon (Amerika)

Selama lebih dari 2.000 tahun, orang-orang Pueblo kuno menempati wilayah luas di selatan-barat Amerika Serikat. Chaco Canyon adalah pusat utama kebudayaan leluhur Pueblo antara tahun 850 dan 1250 Masehi, tempat ini adalah merupakan pusat untuk melakukan berbagai upacara, perdagangan dan kegiatan politik untuk wilayah prasejarah  Four Corners. Puebloans dibuat dari blok batu pasir dan kayu yang diambil dari jarak yang yang sangat jauh, pembuatan lima belas kompleks utama yang diperkirakan telah menjadi bangunan terbesar di Amerika Utara hingga abad ke-19. Bangunan-bangunan besar bertingkat berorientasi pada matahari, bulan, dan arah kardinal, tingginya tingkat organisasi sosial masyarakat, dan aktifitas  perdagangan yang luas, menciptakan visi budaya seperti yang lain terlihat sebelumnya atau sesudahnya di dalam negeri tersebut. Namun, semua ini tiba-tiba runtuh pada abad ke-13 ketika pusat peradaban ini secara misterius ditinggalkan dan tidak pernah dihuni lagi.
Sebuah model rekonstruksi digital  Pueblo Bonito kuno (Chaco Canyon, New Mexico, Amerika Serikat) sebelum ditinggalkan. (Saravask melalui commons wikimedia)
Sebuah gambar dari reruntuhan Chetro Ketl di Chaco Canyon (New Mexico, Amerika Serikat); foto ini adalah kompleks kiva besar. (Saravask melalui commons wikimedia
Teori lama yang diyakini adalah bahwa kejatuhan budaya Chaco Canyon dan deforetasi terjadi karena masyarakat miskin menggunakan tempat tersebut untuk membangun kota. Hal ini di dasarkan pada bekas aktifitas pekerjaan sebuah bangunan yang tidak dilanjutuan. Namun, penelitian baru yang diterbitkan dalam Prosiding National Academy of Sciences telah menyimpulkan bahwa hal ini masih dipertanyakan.

Menurut sebuah laporan yang diterbitkan oleh Popular Archeology, studi yang dilakukan oleh ilmuwan dari Departemen Antropologi, University of New Mexico, menunjukkan bahwa tidak ada bukti substansial untuk mendukung klaim bahwa masyarakat Puebloan kuno, membangun kota-kota yang sangat maju.

Sebuah gambar dari Hungo Pavi, yang terletak di bagian tengah dari Chaco Canyon (New Mexico, Amerika Serikat). Sumber gambar; Common Wikimedia

"Tidak ada bukti secara langsung yang memperlihatkan dampak yang disebabkan oleh manusia terhadap hutan lokal dalam Fase Bonito [masa konstruksi dari  850-1150 Masehi], ada indikasi bahwa lahan pertanian dihancurkan oleh deforestasi atau proses lainnya, dan, yang mengejutkan, tidak ada informasi arkeologi yang konklusif tentang jumlah dan sumber kayu, "tulis para peneliti dalam laporan mereka.

Para peneliti menambahkan "Maksud kami, adalah bahwa kita tidak tahu dari mana asal sebagian besar kayu yang digunakan untuk membuat bangunan besar di Chaco. Akibatnya tidak ada dasar untuk menyimpulkan bahwa ditinggalkannya Chaco Canyon  disebabkan oleh deforestasi atau penggunaan sumber daya alam yang berlebihan, atau hubungan pertukaran yang tidak stabil, dan karena itu tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa sejarah Chaco sebagai sebuah cerita  masa lalu tentang kegagalan sosial. "

Sementara itu studi terbaru menolak teori sebelumnya mengenai runtuhnya budaya Chaco Canyon, hingga saat ini semuanya masih menyisakan pertanyaan mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada sekitar 700 tahun yang lalu yang menjadi penyebab dari budaya megah ini runtuh. (RR/tr/14)


Mengungkap Kebenaran Legenda Cacing Raksasa Pembunuh Di Mongolia

Mengungkap Kebenaran Legenda Cacing Raksasa Pembunuh Di Mongolia
UniverScience- Jauh di pedalaman Gurun Gobi, Mongolia terdapat cacing pembunuh yang disebut oleh masyarakat setempat sebagai  Olgoi-khorkhoi, seekor cacing yang mempunyai ukuran besar yang dapat membunuh apapun di sekitarnya, termasuk juga manusia, cacing tersebut di sebut juga sebagai Death Worm Mongolia.
Death Worm Mongolia adalah cacing berwarna merah cerahmakhluk misterius yang disebut-sebut  menghuni sebelah selatan Gurun Gobi. Suku Mongolia lokal mengaku telah melihat makhluk itu dalam perjalanan mereka, tapi cerita tersebut belum terkonfirmasi kebenarannya, bahkan setelah banyak upaya oleh beberapa ekspedisi penelitian selama bertahun-tahun belum juga ditemukan titik terang tentangnya.

Olgoi-khorkhoi termasuk salah satu binatang misterius di Mongolia dimana 'cacing usus besar' ini  digambarkan mempunyai panjang hingga 1 meter (3 kaki). Warnanya merah, seperti usus yang dipenuhi  dengan darah. Ilustrasi artistik menggambarkan bahwa cacing tersebut mempunyai mulut menganga bulat penuh dengan gigi-gigi tajam. Beberapa orang yang mengaku pernah melihat menggambarkannya memiliki gigi runcing, dengan kemampuan  menyemprotkan asam panas yang dapat membunuh korban yang diserang olehnya. Ada juga yang menyebutkan cacing ini dapat mengeluarkan arus listrik dari tubuhnya. Dia akan menyemprotkan cairan asamnya dari bawah pasir tanpa peringatan untuk membunuh korbannya, seperti unta, anjing dan hewan pengerat bahkan manusia juga dapat menjadi korbannya.
Mengungkap Kebenaran Legenda Cacing Raksasa Pembunuh Di Mongolia

Mongolian Death Worm di lukis oleh pelukis Belgia Pieter Dirkx. Kredit: Creative Commons, Pieter0024
Konon kabarnya Olgoi-khorkhoi awalnya tumbuh didalam usus unta yang menelan telur cacing, itulah sebabnya kenapa cacing ini berwarna seperti usus unta, berwarna merah

Banyak penduduk setempat yakin akan keberadaan makhluk misterius ini. Bahkan Perdana Menteri Mongolia Damdinbazar mendatangkan seorang penjelajah Barat pada tahun 1922 untuk menyelidinya.

Sebagian besar masyarakat menanggapinya dengan skeptis, sebagian besar mengatakan bahwa kisah cacing pembunuh adalah hanya cerita rakyat saja. Cerita yang berkembang cukup deskriptif dan seragam, tetapi belum satupun kebenarannya dapat dikonfirmasi. Banyak peneliti independen, petualang, dan ahli zoologi telah berusaha mencari kebenaran tentang makhluk ini di Gurun Gobi untuk menemukan cacing pembunuh yang cukup terkenal ini, tapi tak ada satupun yang berhasil melihatnya, apalagi mengambil gambarnya.

Sejarah cacing kematian di Mongolia telah di ceritakan secara turun temurun selama beberapa generasi, tetapi baru mendatangkan perhatian dari dunia barat pada tahun 1920, setelah buku paleontolog Roy Chapman Andrew menggambarkan informasi tentangnya secara rinci. Namun demikian Andrew tetap skeptis tentang keberadaannya.
Mengungkap Kebenaran Legenda Cacing Raksasa Pembunuh Di Mongolia
Peta tempat hidupnya The Death Worm Mongolia, Gurun Gobi. Kredit: Wikipedia
Cryptozoologist Ivan Mackerle ditugaskan sebagai penyidik ​​utama dari cacing kematian ini. Dia mendapat informasi tentang Death Worm dari mahasiswa, kemudian Ivan datang ke Mongolia selatan pada tahun 1990 untuk mengungkap lebi
h jauh tentang Death Worm. Investigasinya mengalami banyak kendala, karenarata-rata orang  Mongolia enggan untuk berbicara tentang binatang legendaris tersebut. Kondisi tersebut diperparah dengan lararangan yang diterapkan oleh pemerintah Mongolia untuk pencarian Death Wor ini, Mackerle-pun akhirnya gagal untuk  mencari jawaban tentangnya

Dalam bukunya yang berjudul "Mongolské záhady", Mackerle mencatat tentang Death Worm. Mackerle menyebutkan bahwa makhluk tersebut adalah " cacing yang menyerupai sosis dengan panjang lebih dari setengah meter (20 inci), dan besarnya seukuran
lengan manusia, mirip usus sapi. Kulitnya berfungsi sebagai exoskeleton yang akan mengalami molting setiap kali sakit. Ekornya pendek seperti terputus, tapi tidak meruncing. sulit untuk untuk membedakan kepala dari ekornya karena tidak memiliki mata yang terlihat, lubang hidung atau mulut. " Walaupun dia tidak pernah menyaksikannya sendiri, tetapi Ivan Mackerle akhirnya menyatakan bahwa Olgoi-khorkhoi bisa saja nyata".

LiveScience mengutip perkataan ahli biologi Inggris Dr Karl Shuker, penulis buku "The Unexplained". Shuker menggambarkan binatang legendaris ini sebagai "salah satu makhluk yang paling sensasional di dunia, tersembunyi di tengah padang pasir di selatan Gurun Gobi. Binatang ini, menghabiskan banyak waktu untuk bersembunyi di bawah gurun pasir, tetapi setiap kali ada peneliti yang akan mengungkap kebenarannya  dihindari oleh penduduk setempat. "Shuker sendiri tidak pernah  menyaksikan Death Worm Mongolia, tetapi hipotesis bahwa cacing ini mungkin amphisbaenid karnivora, tanpa kaki, berupa kadal yang hidup di iklim hangat.
Mengungkap Kebenaran Legenda Cacing Raksasa Pembunuh Di Mongolia
Amphisbaena alba. Kredit: Creative Commons, Diogo B. Provete
Peneliti lain menunjukkan deskripsi lebih lebar tentangnya, kemungkinan binatang ini adalah keluarga ular cobra, yang ditemukan di Australia dan New Guinea, secara fisik mirip dengan cacing mati, dan mampu menyemburkan racun hingga beberapa meter.

Mengungkap Kebenaran Legenda Cacing Raksasa Pembunuh Di Mongolia
 Acanthophis antarcticus. Kredit: Creative Commons, R.Soedirman
 Reputasinya sebagai hewan yang menakutkan memang belum tergoyahkan ekspedisi ke padang gurun oleh wartawan, wartawan hiburan, dan program reality-TV baru-baru ini, Semua upaya penelitian, termasuk serangkaian liputan National Geographic Channel terhadapnya, telah datang dengan tanpa membuahkan hasil apapun, dan akhirnya mereka menarik kesimpulan bahwa mungkinkah Death Worm Mongolia hanyalah legenda yang bisa saja pernah ada dan sekarang sudah punah. Walaupun demikian penduduk setempat sangat yakin bahwa mereka ada, dan selalu menyarankan agar siapapun waspada jika melintasi Gurun Gobi. (RR/tr/14)



 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Free Zone Film - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger